Minggu, 26 Desember 2010

Angkutan batu bara 2011 terjamin

http://www.pengadaan.com


RI tidak perlu tambahan armada tongkang

JAKARTA: Pelaku usaha pelayaran nasional menjamin kebutuhan kapal tongkang untuk angkutan batu bara selama 2011 dapat tercukupi dengan armada nasional.

Menyusul beroperasinya lima pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) proyek percepatan 10.000 mega watt (MW), pengusaha pelayaran optimistis dapat mengangkut batu bara sesuai kapasitas yang dibutuhkan.

Kelima PLTU yang dijadwalkan akan beroperasi pada 2011 adalah PLTU Indramayu Jawa Barat (3x330 MW), PLTU Suralaya 1 Jawa Barat (2x265 MW), PLTU Paiton Jawa Timur (1x600 MW) dan PLTU Lontar Banten (2x300 MW).

Teddy Yusaldi, Presiden Direktur PT Transpower Marine, mengatakan Indonesia tidak memerlukan tambahan tongkang dalam jumlah banyak pada tahun depan karena sebagian besar armada hasil pengadaan tahun ini banyak yang menganggur.

Menurut dia, kondisi kapal tongkang di Indonesia saat ini sudah melebihi permintaan akibat tertundanya operasional sejumlah PLTU selama 2010 dan tidak bersahabatnya kondisi cuaca pada sentra produksi dan pemuatan batu bara.

Akibatnya, katanya, saat ini pasokan kapal tongkang berbendera Merah Putih sudah berlebih dibandingkan dengan permintaan. Tahun depan, berapa pun yang dibutuhkan, operator tongkang nasional siap memasok, katanya kepada Bisnis, kemarin.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), alokasi batu bara untuk kebutuhan di dalam negeri pada 2011 mencapai 55,82 juta ton naik dibandingkan dengan prediksi konsumsi domestik tahun depan sebanyak 52 juta ton.

Sementara itu, konsumsi batu bara untuk pembangkit sejumlah PLTU selama 2010 diperkirakan mencapai 36,8 juta ton. Sekitar 80% dan konsumsi dalam negeri digunakan untuk memasok pembangkit, kata Teddy.

Teddy menambahkan selama 2010, sedikitnya 270 set kapal tongkang yang dibeli oleh pengusaha pelayaran nasional baik dari galangan dalam negeri maupun luar negeri sudah memperkuat angkutan domestik.

Sebanyak 270 set kapal tongkang tersebut dibeli oleh pengusaha pelayaran nasional dari galangan China sebanyak 100 set, galangan Malaysia berkontribusi sekitar 20 set dan galangan Indonesia, terutama Batam sebanyak 150 set.

Tidak seimbang
Namun demikian, kata dia, lonjakan jumlah kapal tongkang berbendera Merah Putih tersebut tidak diiringi dengan pertumbuhan pasar yang seimbang akibat tertundanya rencana operasi sejumlah pembangkit listrik.

Adapun total investasi yang dirogoh operator pelayaran nasional untuk pembelian kapal tongkang tersebut mencapai US$945 juta mengingat saat ini harga kapal tersebut rata-rata mencapai US$3,5 juta.

Wakil Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Indonesian National Shipowners Association (INSA) L. Sudjatmiko mengatakan mengakui ada keterlambatan operasional sejumlah PLTU milik pemerintah selama 2010.

Namun, katanya, pelaku usaha pelayaran nasional masih antusias melakukan pengadaan kapal jenis tongkang karena kegiatan pengangkutan komoditas tambang tersebut terus meningkat dari tahun ke tahun.

Berdasarkan data Asosiasi Produsen Batu bara Indonesia (APBI), produksi batu bara nasional sejak 2006 hingga 2010 terus meningkat. Jika pada 2006 produksi batu bara nasional mencapai 190,48 juta ton, pada 2007 naik menjadi 221,1 juta ton.

Pada 2008, produksi batu bara nasional meningkat mencapai 239,41 juta ton, sedangkan 2009 tercatat sebanyak 257 juta ton. (tularji@bisnis.co.id)

OLEH TULARJI
Bisnis Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar