Minggu, 26 Desember 2010

BPH Migas kembali lirik smart card

http://www.pengadaan.com

JAKARTA: Pemerintah melirik beberapa jenis penggunaan teknologi untuk pengawasan pengaturan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang salah satunya kembali memakai smart card.

Anggota Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) Adi Subagyo menjelaskan beberapa, teknologi tersebut yakni smart card, RFID (radio frequency identification), barcode, dan stiker khusus.

"Akan ada arah ke sana kalau waktunya cukup. Kita perlu waktu yang cukup agar bisa lakukan tender dan segala macamnya," kata Adi dalam acara sosialisasi
pengaturan BBM, kemarin.

Untuk sementara waktu, langkah pengawasan pengaturan BBM subsidi yang akan dilakukan pemerintah rencananya baru sebatas secara visual terlebih dulu, yakni dengan membedakan penggunaan warna pelat kendaraannya.

Anggota Komisi VII DPR M. Romahurmuizy kepada Bisnis sebelumnya mempertanyakan hasil dari uji coba secara tertutup atas pengendalian BBM subsidi di Bintan dan Bangka yang sebelumnya telah dilakukan oleh BPH Migas. Menurut dia, hingga kini efektivitas program kartu kendali itu sendiri masih tanda tanya.

"Sampai sekarang saja laporannya saja belum ada ke DPR jadi smart card belum bisa dibilang efektif atau tidak, tapi yang jelas biaya [uji coba] sudah keluar," ujarnya baru-baru ini.

Dirjen Migas Kementerian ESDM Evita H. Legowo mengakui persiapan penggunaan teknologi untuk pengaturan BBM subsidi di lapangan membutuhkan waktu persiapan yang tidak sebentar.

"Keinginan saya Juli 2011 kalau mungkin. Tapi kayaknya karena menyangkut tender dan segala macamnya. Kemungkinan Oktober 2011. Belum ada estimasi anggaran yang disiapkan untuk rencana tersebut," ujar Evita.

Dirut Pertamina Karen Agustiawan mengatakan saat ini terus menggenjot persiapan infrastruktur untuk kawasan Jabodetabek terkait dengan rencana pengaturan BBM subsidi yang akan dilaksanakan pada akhir kuartal I/ 2011. Dengan catatan hal itu harus mendapat persetujuan dari DPR.

Karen menyebutkan berdasarkan data per 10 Desember 2010, dari total 720 SPBU di Jabodetabek, ada 539 SPBU yang sudah menjual pertamax. Sedangkan sisanya sebanyak 140 SPBU berpotensi switching tangki pendam. Adapun investasi tangki berjumlah 41 SPBU.

"Jadwal switching tangki pendam, migrasi dispenser, dan nozzle diperkirakan selesai 100% pada akhir Februari 2011." (10/APRILIAN HERMAWAN)


BISNIS INDONESIA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar