http://www.pengadaan.com
JAKARTA: PT Pertamina (Persero) disarankan untuk menggencarkan upaya optimalisasi lapangan minyak tua skala kecil melalui strategi engineering, sejalan dengan rencana pengalokasian belanja modal yang terus meningkat pada sektor hulu pada 2011 hingga 2014.
Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Pri Agung Rakmanto mengatakan rencana Pertamina akan lebih baik diarahkan kepada aksi akuisisi lapangan migas, bukan lagi korporat seperti halnya pada pembelian saham Encore International Ltd.
"Kegagalan akuisisi atas Encore memberi pelajaran bahwa yang seharusnya dibeli oleh Pertamina itu lapangan migas, bukan korporatnya karena itu akan memberi dampak penambahan produksi secara langsung," katanya kepada Bisnis kemarin.
Penjelasan Pri Agung ini menanggapi rencana alokasi belanja modal Pertamina pada 2011 sebesar Rp37,1 triliun atau naik 41,6% dibandingkan dengan 2010 sebesar Rp26,2 triliun.
Seperti dikutip Antara, Komisaris Utama Pertamina Sugiharto dalam bahan seminarnya menyatakan belanja modal 2011 tersebut sebagian besar dialokasikan untuk direktorat hulu, yakni Rp28,4 triliun.
Adapun sisanya, diperuntukkan bagi pemasaran, kilang, perkapalan, dan gas alam cair serta lainnya.
Pada 2010, belanja modal Pertamina mencapai Rp26,2 triliun dan sebesar Rp19,6 triliun diperuntukkan sisi hulu.
Sementara itu, belanja modal pada 2012 dialokasikan naik 53,4% atau Rp19,8 triliun menjadi Rp56,9 triliun dan sebesar Rp35,6 triliun disisihkan untuk sektor hulu. Pada 2013, belanja modal naik lagi menjadi Rp67,7 triliun, yang lebih dari separuhnya yaitu Rp36,1 triliun untuk hulu.
Begitu pula pada 2014, belanja modal menjadi Rp74,3 triliun dan Rp38,7 triliun dialokasikan untuk hulu.
Kendala dana
Menurut Pri Agung, lapangan migas tua yang dimaksud itu berskala di bawah 5.000 barel minyak per hari (BOPD) dan menghadapi persoalan dana untuk meningkatkan produksi.
"Lapangan skala besar agak sulit dibeli karena pemiliknya tentu tidak akan melepas begitu saja. Untuk lapangan baru, sampai sekarang kok masih belum kelihatan."
Optimalisasi lapangan migas yang telah dilakukan Pertamina selama ini, lanjutnya, sebenarnya telah memperlihatkan hasil positif. Dia merujuk lapangan Bunyu di Kalimantan Timur yang dapat digenjot empat kali lipat dari posisi 1.500 BOPD menjadi di atas 6.000 BOPD.
Demikian pula dengan Sanga-Sanga, Kaltim, yang naik dari 6.000 BOPD menjadi 12.000 BOPD. "Hasil yang diperoleh dari lapangan itu merupakan bagian dari strategi engineering."
Dalam makalah tersebut, Sugiharto juga memaparkan target produksi minyak dan gas Pertamina pada 2015 akan mencapai 1 juta barel setara minyak.
OLEH APRILIAN HERMAWAN
Bisnis Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar