| Peningkatan produksi dari lapangan eksisting dan baru JAKARTA: Pemerintah menargetkan tahun depan investasi minyak dan gas (migas) bisa mencapai US$14,9 miliar atau mendekati target 2010 sebesar US$15 miliar yang sebagian besar ditujukan untuk sektor hulu migas. Direktur Jenderal Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Evita H. Legowo mengatakan target investasi 2011 itu terdiri dari hulu US$13 miliar dan hilir US$1,9 miliar. Dia optimistis bisa mencapai target investasi 2011 dengan beberapa perencanaan yang sudah disiapkan serta dengan mempertimbangkan kondisi perekonomian secara keseluruhan. "Tantangan lain adalah permintaan pemanfaatan gas domestik yang semakin besar. Implementasi peningkatan pemanfaatan gas untuk transportasi, serta pengaturan BBM bersubsidi," ujar Evita dalam seminar Energy and Mining Editor Society bertajuk Outlook Energy & Mining 2011, kemarin Hingga September 2010, kata dia, investasi migas sudah mencapai US$7,9 miliar. Angka itu terdiri atas investasi dan sektor hulu sebesar US$7,5 miliar dan sektor hilir sebesar US$400 juta. Evita menyebutkan tantangan industri migas pada 2011 antara lain target produksi minyak yang sebesar 970.000 barrel oil per day (BOPD) atau naik 5.000 BOPD dari target tahun ini. Selain itu, kendala lainnya adalah kapasitas infrastruktur migas yang terbatas. Menurut dia, pemerintah juga sudah menyiapkan strategi peningkatan produksi minyak tahun depan dengan cara mengoptimasi lapangan-lapangan eksisting untuk menahan laju penurunan produksi. Upaya ini termasuk pengembangan lapangan baru termasuk put on production sumur temuan eksplorasi. lerkait dengan pembangunan infrastruktur gas bumi, kata Evita, pemerintah juga akan membangun tiga lokasi LNG receiving terminal. Sejumlah kendala Anggota Komisi VII DPR Dito Ganinduto menilai target produksi migas 2011 berpotensi tidak akan tercapai akibat sejumlah kendala antara lain tumpang-tindih sektor, penerapan asas cabotage, serta keterbatasan kilang pengolahan BBM di dalam negeri. "Setiap penurunan produksi minyak sebesar 10.000 barel per hari menyebabkan penerimaan negara turun Rp3 triliun—Rp3,34 triliun. Jika asas cabotage tidak direvisi maka potensi penurunannya bisa mencapai 225.000 BOPD," ujar Dito. Deputi Menko Perekonomian Bidang ESDM dan Kehutanan, Wimpy S Tjetjep, yang mewakili Menteri Perekonomian Hatta Rajasa, mengatakan penerapan asas cabotage di sektor perminyakan menjadi prioritas pemerintah untuk segera selesai. "Ada potensi besar yang belum digali yaitu unconventional hydrocarbon yang terdiri dari coal bed methane, underground coal gassification, shale gas, dan lain-lain. Potensi ini akan disiapkan regulasinya sehingga dapat digarap di Indonesia," ujarnya. (10) (redaksia@bisnis.co.id) BISNIS INDONESIA | |
Minggu, 26 Desember 2010
Investasi migas dekati US$15 miliar
http://www.pengadaan.com
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar